Rabu, 26 Januari 2011

PENDUDUK ASLI AMERIKA

Penduduk Asli dan Para Pendatang

Sebelum kedatangan bangsa kulit putih, telah banyak suku-suku bangsa dari Asia bagian Utara yang mengeksplorasi dan menetap di berbagai wilayah Amerika, dan menurut dugaan para arkeolog hal tersebut terjadi sejak 10 ribu hingga 50 ribu tahun yang lalu. Kebanyakan dari mereka menempuh perjalanan melalui sebuah rute dari Siberia ke Alaska, menyeberangi sebuah selat yang sangat terkenal yaitu Selat Bering. Hingga abad ke 15 keturunan mereka telah menyebar luas di kedua wilayah tersebut.

Ketika Christopher Columbus berlabuh di kepulauan Bahama, Amerika Utara pada saat itu telah menjadi tempat tinggal bagi setidaknya 10 juta jiwa. Laksamana dari Spanyol ini rupanya kelewat yakin bahwa ia telah menemukan jalur baru ke wilayah Asia yang selama ini dicari oleh para pelaut Eropa, sehingga dengan percaya diri menyebut penduduk asli yang ditemuinya dengan ”Indian”. Padahal saat itu penduduk asli Amerika tersebut telah berkembang dan terbagi dalam 300 suku bangsa dan menggunakan kurang lebih 200 ragam bahasa yang berbeda. Di bagian Utara, wilayah tinggal mereka terkonsentrasi di sepanjang pesisir yang sekarang di kenal sebagai California, dengan rasio penduduk 14 jiwa per 50 mil persegi, sementara rasio penduduk asli Amerika yang tinggal di Mississippi adalah 9 jiwa per 50 mil persegi.

Sebagaimana komunitas lain di muka bumi ini, kebudayaan Indian tidak bersifat statis. Hingga tahun 1492 di wilayah Amerika Utara banyak ditemukan jejak-jejak kebangkitan dan keruntuhan dari berbagai suku Indian. Para arkheolog telah berhasil mengumpulkan sisa peninggalan suku Indian, berupa pecahan gerabah dan sisa-sisa tenda, dalam wilayah sebaran yang luas, dari mulai Canada hingga Florida, juga di wilayah antara Pantai Barat Atlantik hingga California. Peninggalan lain yang masih dapat dijumpai diantaranya adalah pondasi kuil pemujaan yang dibangun di Ohio dan lembah sungai Mississippi, dimana di tempat yang sama juga ditemukan banyak peralatan rumah tangga dari gerabah, tembaga dan kulit kerang. Beberapa situs pemakaman, ditengarai sebagai peninggalan suku Indian yang bermata pencaharian sebagai petani yang diperkirakan mulai berkembang sekitar 3000 tahun yang lalu. Pada penggalian di situs Cahokia, Illinois dekat wilayah St. Louis Timur, dijumpai reruntuhan kota yang sangat mungkin dibangun pada jaman Prasejarah, yang mampu menampung sekitar 40 ribu hingga 50 ribu jiwa. Di situs yang lain yaitu di sepanjang lembah dan ngarai di Colorado sebelah Selatan dan New Mexico sebelah Utara, orang-orang masih bisa mengunjungi tempat tinggal model apartemen yang diperkirakan merupakan peninggalan dari manusia awal Columbia. Tempat tinggal tersebut terdiri dari empat hingga lima lantai, terbuat dari batu dengan teras yang dibangun dengan tingkat keahlian rancang bangun yang luar biasa. Peninggalan tersebut diyakini adalah persembahan bagi Anasazi, dan masyarakatnya dikenal sebagai penganutnya yang sangat taat, sebelum masuknya pengaruh bangsa kulit putih. Beberapa peninggalan yang tersisa benar-benar punah dipenghujung abad ke 15, sisanya melebur dengan akar-akar budaya yang lebih besar.

Para penjelajah Barat tersebut juga mendapatkan fakta yang tidak pernah mereka duga sebelumnya, bahwa benua baru itu ternyata telah dihuni oleh bangsa Indian dari bermacam suku dan bahasa. Kenyataan lain yang cukup mengesankan mereka adalah bahwa mereka hidup dalam masyarakat yang merdeka berdaulat dan dapat memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri. Kondisi seperti itu mereka jumpai misalnya, di bagian Timur Laut Amerika, saat bangsa kulit putih tiba di sana, telah ada perserikatan politik yang permanen yang didirikan oleh lima orang suku Iroquoian. Perserikatan tersebut yang kemudian dikenal sebagai ”Great League”, dibentuk pada akhir abad ke 15 oleh dua orang tokoh yang legendaris, Hiawatha dan Deganawidah, dan sangat berdaulat sehingga pemerintah Kerajaan Inggris dan Perancis dipaksa bernegoisasi dengan mereka dalam kedudukan yang sejajar. Di wilayah Tenggara, Bangsa kulit putih berhasil mengikat salah satu suku India Muskogean dalam sebuah perjanjian yang di kenal sebagai ”Konfederasi Creek”. Di Louisiana bangsa kulit putih mereka berhasil menemui penguasa terakhir suku Natchez, yang memerintah rakyatnya dalam suasana monarkhi-absolut. Di Virginia bangsa kulit putih mendapati kenyataan bahwa ada sekitar dua ratus desa yang terdiri atas tiga puluh suku India yang berlainan, dapat bersatu di bawah Konfederasi Powhatan. Bahkan di California, bangsa kulit putih menyaksikan bahwa banyak suku-suku yang lebih kecil yang berbicara dalam berbagai bahasa yang berbeda, hidup dalam suasana yang merdeka.

Pasca penemuan benua Amerika oleh Columbus melalui pendaratannya disana, benua ini memang makin dikenal luas dikalangan pelaut Eropa. Di sisi lain, terdapat kenyataan bahwa, beberapa ilmuwan meyakini bahwa sebelum keberadaan suku Indian teridentifikasi sebagai penduduk asli, daratan ini telah disinggahi oleh para penjelajah dari Asia. Peninggalan tertulis terungkap dari catatan perjalanan lima orang pendeta Buddha yang mengikuti pelayaran dari China pada tahun 458 Masehi. Catatan lain yang berasal dari bangsa Jepang, yang mengisahkan pendaratan mereka di Mexico dan Guatemala dibawah perintah Kaisar Fu-Sang. Bukti lain yang sangat meyakinkan adalah adanya laporan dari para pelaut Viking yang menyatakan bahwa mereka melakukan kontak dagang dan kontak fisik (pertempuran) dengan penduduk asli di wilayah Greenland, Labrador, dan Nova Scotia.

Kedatangan bangsa kulit putih di Amerika telah diramalkan sebelumnya oleh hampir seluruh suku Indian, baik melalui kisah fabel maupun sage. Misalnya, kisah tentang Hiu Putih yang meramalkan tentang kedatangan orang asing dari ras kulit putih yang akan merampas kekuasaan bangsa kulit merah (Indian), maupun kisah dan ramalan akan kedatangan bangsa kulit putih yang akan menguasai tanah bahkan memperbudak mereka. Kontak suku-suku Indian dengan bangsa kulit putih tidak terjadi secara serentak diseluruh kawasan, misalnya suku Indian Hopi di Arizona dan suku Hurons di Canada Timur mengawali kontak mereka dengan bangsa kulit putih pada awal 1540-an, sementara suku Indian Sioux di dataran Dakota baru mengenal bangsa asing ini 150 tahun kemudian, atau bahkan suku Indian Wintu di California Utara baru merasakan penderitaan akibat ekspansi kulit putih seperempat abad kemudian.

Kebudayaan Indian

Sebelum orang-orang kulit putih dari Eropa menjajah sampai ke benua Amerika, sebenarnya di sana sudah ada kebudayaan-kebudayaan yang disebut Amerindia atau kebudayaan pra-Colombus. Disebut begitu, sebab sebelum Colombus menemukan Amerika Latin, di Amerika telah ada kebudayaan penduduk asli. Disebut juga kebudayaan Amerindia, dimaksudkan untuk membedakannya dengan kebudayaan India yang ada di Asia. Berdasarkan pengkajian sejarah, ada gejala-gejala yang menunjukkan bahwa asal dan akar kebudayaan bangsa Indian di benua Amerika seperti ada hubungan dengan benua Asia. Menurut perkiraan para arkeolog, pada zaman batu telah terjadi migrasi bangsa Asia timur laut ke benua Amerika.

Para ahli sejarah kemudian mencoba mengelompokkan kebudayaan Amerika menjadi empat masa. Pertama, masa kejayaan pribumi asli antara 500 SM - abad ke-16 Masehi. Kedua, masa kolonial antara abad ke-16 s.d. abad ke-19. Ketiga, tahap nasional baru yang berlangsung antara abad ke-19 s.d. 1930. Keempat, masa peradaban Amerika modern sejak 1930.

Pada masa kejayaan pribumi asli, di benua Amerika tengah (Meksiko, Guatemala dan Honduras) telah berkembang beberapa kebudayaan suku bangsa Indian. Antara 500 SM - 800 Masehi berkembang kebudayaan suku bangsa Indian Maya. Menyusul antara 800 - 1200 kebudayaan Indian Toltek, Indian Aztek (1200 - 1519) dan di Peru kebudayaan suku bangsa Indian Inka (1100 - 1500).

Pada masa kejayaan peradaban Maya, seni pahat atau patung dan keramik memiliki kedudukan yang amat penting, selain arsitektur. Hubungan antara seni pahat dengan arsitektur begitu erat. Sehingga beberapa wujud bangunan arsitektur kesannya seperti pahatan-pahatan raksasa. Pada saat itu, bahan bangunan terpenting adalah batu. Kemahiran memecah dan mengukir batu-batu besar sungguh luar biasa. Balok-balok batu yang besar disusun dengan rapi dan diperkuat dengan jangka-jangka dari logam tak berkarat. Pada masa itu, selain konstruksi balok susun dan tiang kubah, telah dikenal pula konstruksi lengkung. Kemudian telah dilakukan juga teknik pembuatan bangunan tembok-tembok batu dengan teknik sambungan vertikal yang lurus, bukan dengan teknik penumpukan mendatar.

Salah satu monumen dari kebudayaan Maya adalah sisa-sisa bangunan yang ada di Labna, Yucatan. Peradaban Maya di daerah Honduras dan Guatemala adalah pemuja Dewa Matahari, sehingga mereka membangun bangunan-bangunan untuk upacara keagamaan di bukit-bukit dalam bentuk piramida-piramida tangga. Salah satu peninggalannya adalah piramida untuk memuja Dewa Matahari di San Juan Teotihuakan. Piramida yang dibangun pada 800 Masehi ini memiliki tinggi 66 meter dan sisi alas bangunannya 210 meter.

Setelah kebudayaan Maya menyurut, berkembanglah kebudayaan suku bangsa Indian Toltek antara 800 - 1200. Sebagian dari ahli-ahli purbakala menggolongkan suku bangsa ini sebagai penerus peradaban Maya. Ketika kebudayaan India Toltek berkembang, suku bangsa ini telah mampu membangun kota-kota yang megah. Bangunan-bangunannya yang dibuat dari bahan batu, terlihat hampir tidak berjendela, tetapi penuh dengan ukiran. Bangunan peninggalan suku bangsa Toltek yang terlihat masih utuh adalah arena permainan bola di Kopan dan bangunan observatori untuk mengamati bintang-bintang di angkasa terdapat di Chichen Itza, yang diperkirakan dibangunan pada 1200.

Kemudian pada 1200-1519 berkembanglah kebudayaan suku bangsa Indian-Aztek. Suku Aztek juga memuja Dewa Matahari sebagai dewa tertinggi. Para masa ini berkembang suatu upacara yang mengorbankan manusia hidup-hidup sebagai persembahan kepada dewa. Sisa-sisa bangunan bekas tempat upacara tersebut bernama Istana Maut, dibangun pada 1100 di Milta. Bangunan itu terdiri dari pintu gerbang dan juga merupakan monolit-monolit.

Pusat kebudayaan Aztek terletak di danau Texcoco dengan Ibu kota Tenochtitlan. Saat bangsa Spanyol mereka kota ini dan menancapkan kuku kolonialismenya, keadaan kota ini jauh lebih hebat dari dari kota-kota di Eropa pada masanya. Sekarang Kota Tenochitlan disebut Mexico City. Setelah kebudayaan Aztec menyurut, di kawasan Peru kemudian berkembang perabahan Inka. Kebudayaan bangsa Inka berkembang antara 1100-1500, ibukotanya Inka adalah Cuaco, kotanya dibangun dengan megah. Tetapi pendatang-pendatnag dari Spanyol yang menancapkan kuku kolonialismenya pada pertengahan abad ke-16, telah memusnahkan pusat kota peradaban Inka tersebut. Kota tua lain yang terkenal pada masa kebudayaan Inka adalah Kota Socsahuaman yang dilengkapi benteng pertahanan tiga lapis dan dilengkapi menara.

Selain itu, kota tua yang dibangun di atas puncak Gunung Machu Picchu pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, merupakan kota tua yang konsepsi kemudian mengilhami pengembangan teori-teori baru dalam arsitektur pada abad ke-19. Teori baru ini dikenal dengan The Charter of Machu Picchu, yang menekankan agar arsitektur dibangun lebih teratur, lebih mementingkan manusia dan memperhatikan alam maupun lingkungan hidup.

Pada masanya, teknik bangunan batu yang dikembangkan suku bangsa Inka sudah sangat tinggi. Selain menggunakan batu-batu persegi, mereka juga mengembangkan teknik bangunan batu poligonal (segi banyak) atau bangunan batu lebih dari empat sudut.

Kehebatan peradaban kebudayaan bangsa Indian di Amerika tengah ini, tidak hanya dalam wujud bangunan-bangunan batu, kubu-kubu pertahanan dan kota di puncak bukit yang sangat tinggi, tetapi juga dalam bentuk jembatan gantung 12.000 km (7000 mil) di atas sungai. Ada juga gambar-gambar di atas bukit dan lembah yang panjangnya ribuan kilometer, yang hanya bisa dilihat dari udara. Para ahli menduga, gambar ini merupakan tanda-tanda khusus untuk penerbangan luar angkasa. Tetapi beberapa tahun silam ada peneliti yang mengungkapkan dalam siaran televisi ilmu pengetahuan, bahwa gambar-gambar ini berkaitan dengan ''Jam Matahari'' untuk membantu aktivitas pertanian. Dengan menancapkan tongkat-tongkat kayu pada titik tertentu, suku bangsa ini akan tahu kapan musim tanam tiba, yaitu dengan melihat jatuhnya bayangan tongkat pada siang hari dan rasi bintang pada malam hari.

Dua Kekuatan Saling Berhadapan

Pada tahun 1006 seorang kapten kapal Thorvald, yang bernama Eric the Red, beserta sejumlah ABK nya berlabuh di sebuah tempat di Nova Scotia. Secara sepihak mereka menyebut penduduk asli yang mereka jumpai sebagai kelompok barbarian yang liar, bahkan dengan membabi buta mereka membantai enam orang diantaranya. Hampir lima abad setelah itu, pada sebuah hari Jum’at tanggal 12 Oktober 1492, Columbus dan pasukannya yang bersenjata lengkap, mendarat di kepulauan Bahama, yang kemudian mereka namai San Salvador, di tempat itulah mereka berjumpa dengan penduduk lokal, yaitu Indian Taino. Pertemuan itu begitu berkesan, hingga Columbus menuliskan dalam jurnalnya, ”Mereka begitu yakin, bahwa kami berasal dari kerajaan Langit, dan kedatangan kami disambut penuh hormat dimanapun kami berkunjung”. Namun demikian tidak banyak yang tahu bahwa, suku Indian Taino mulai kehilangan rasa hormat mereka kepada Columbus, saat kapten Spanyol itu mengambil paksa sepuluh buah tenda suku mereka untuk dijadikan cinderamata, untuk ditunjukkan kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol. Dua tahun kemudian Columbus juga mengapalkan lima ratus orang asli Indian Barat sebagai budak, dan hampir semuanya mati karena wabah yang ganas. Sejak saat itu Spanyol mempunyai komoditas baru dalam niaganya yaitu perdagangan budak, yang kemudian menyebabkan punahnya suku asli Indian dari kepulauan Karibia.

Dalam pandangan bangsa Spanyol, suku Indian sangat potensial bagi usaha mereka menyebarkan agama Katholik dan sekaligus mencari budak untuk dipekerjakan di tambang perak mereka di Mexico dan wilayah Barat Daya serta perkebunan mereka di Karibia. Perjuangan berat mereka untuk mendapatkan harta dan kekuasaan (Gold-Glory) membawa para penakluk ini pada konsekuensi, diperolehnya hak atas kepemilikan properti sebagai wilayah koloni. Kenyataannya Spanyol tidak pernah tinggal dalam jumlah komunitas yang cukup besar di tempat tersebut. Sejarah mencatat perjalanan eksplorasi Amerika Utara yang dilakukan oleh Hernando de Soto (1539-1542) dan juga perjalanan Fransisco Coronado (1540-1542), diikuti oleh keberhasilan St. Augustine pada th. 1565 yang memantapkan klaim Spanyol atas Semenanjung Florida, serta pengukuhan wilayah Santa Fe pada th.1609 sebagai ibukota bagi wilayah Barat Daya. Dengan dikuasainya beberapa wilayah tersebut, kekuasaan Spanyol terbentang sepanjang pantai Pasific dimulai dari pulau Vancouver hingga ke ujung Amerika Selatan, dan wilayah Timur pedalaman yang meliputi sepanjang sungai Mississippi hingga berbatasan dengan Semenanjung Florida, dan Spanyol sangat berharap akan keuntungan secara material dan kekuasaan dengan penguasaan ini.

Penjelajah Perancis mempunyai cara yang agak berbeda dengan penjelajah Eropa lain. Perancis selalu membuat jaringan dengan para kepala-kepala suku maupun pemimpin wilayah yang mereka kunjungi dalam tiap penjelajahannya di wilayah-wilayah pedalaman. Penjelajah Perancis yang pertama kali mendatangi Dunia Baru ini adalah Jaques Cartier yang melayari sungai St. Lawrence pada tahun 1534 yang mendapat sambutan hangat dari suku Indian Huron. Bila dibandingkan dengan pendatang Eropa lain, bangsa Perancis di mata suku Indian adalah pendatang paling bersahabat. Sebagai ilustrasi, Spanyol akan menjatuhkan sanksi bagi warganya yang terbukti berhubungan dengan wanita setempat, karena bangsa Spanyol beranggapan suku Indian adalah bangsa penyembah beerhala dan terbelakang. Di sisi yang lain Perancis malah dengan sangat antusias menyerap kebudayaan Indian, dari mulai tradisi, pengetahuan, kesenian, bahasa, bahkan melakukan perkawinan silang. Sikap inilah yang menyebabkan orang Perancis lebih mudah menjelajah pedalam Amerika dalam upaya mereka untuk menguasai perdagangan buku. Penjelajahan Perancis mencapai puncak kejayaannya pada pelayaran Sieur de La Salle’s yang tiba Teluk Mexico pada 1682. Bila diakumulasikan, maka wilayah jajahan Perancis membentang mulai sebelah Barat Pegunungan Appalachian hingga sungai Mississippi, sebelah Selatan mulai Canada hingga Teluk Mexico. Kolonial Perancis juga berhasil mendirikan dua kota besar yaitu Quebec (1608) dan Montreal (1642). Kelemahan Perancis adalah, mereka lebih fokus pada perniagaan dan membangun jaringan dagang daripada membangun pemerintahan yang kuat dan berdaulat.

Pemukim pertama di daerah New England, Amerika timur-laut, mulai tiba dalam tahun 1620. Mereka ingin hidup berdampingan secara damai dengan penduduk Indian pribumi Amerika. Mereka perlu saling berdagang untuk memperoleh makanan. Pemukim itu juga menyadari bahwa perang akan berakibat kekalahan cepat, karena jumlah mereka hanya sedikit. Namun, berbagai masalah segera timbul. Barangkali yang paling serius adalah cara berpikir yang berbeda mengenai tanah antara Indian Amerika dan pendatang baru Eropa. Perbedaan itu menciptakan berbagai masalah yang tidak terpecahkan dalam kurun beberapa ratus tahun mendatang.

Tanah bagi pendatang Eropa sangat penting. Di Inggris, dan di kebanyakan negara lain, tanah berarti kekayaan. Memiliki tanah yang luas berarti seseorang memiliki kekayaan yang sangat besar dan memiliki pengaruh politik yang besar pula. Banyak dari pemukim di benua baru itu di Eropa mungkin tidak pernah memiliki tanah. Mereka terlalu miskin. Dan mereka termasuk golongan pemeluk agama yang minoritas. Ketika mereka tiba di benua baru Amerika, mereka mendapati bahwa tampaknya tidak seorangpun memiliki tanah yang luas.

Perusahaan-perusahaan di Inggris perlu menemukan orang yang bersedia untuk bermukim di benua baru. Karena itu mereka menawarkan tanah kepada siapapun yang mau melintasi Lautan Atlantik untuk mengadu untung. Bagi banyak orang, kesempatan itu merupakan impian yang menjadi kenyataan. Kesempatan itu merupakan cara untuk meemperbaiki taraf hidup. Tanah memberikan mereka kesempatan untuk menjadi kaya dan berpengaruh. Suku Indian berkeyakinan bahwa tidak seorangpun dapat memiliki tanah. Namun mereka berpendapat bahwa siapapun dapat menggunakan tanah. Siapapun yang ingin tinggal di suatu tempat dan bercocok tanam di sebidang tanah dapat berbuat demikian.

Suku Indian hidup bersama alam. Mereka dapat hidup layak tanpa harus bekerja keras. Mereka dapat berbuat demikian karena mereka memahami tanah dan lingkungannya. Mereka tidak ingin berusaha mengubah tanah. Mereka mungkin akan hidup di suatu daerah untuk beberapa tahun, kemudian pindah. Mereka membolehkan tanah yang pernah mereka tempati dibiarkan ditumbuhi tanam-tanaman lagi. Mereka barangkali akan berburu di suatu tempat selama beberapa saat, tetapi mereka akan pindah lagi. Mereka berburu hewan hanya sebanyak cukup untuk mereka makan, sehingga jumlah hewan buruan akan terus bertambah. Mereka memahami alam dan berusaha supaya alam dapat menghidupi mereka.

Orang Eropa yang pertama bermukim di New England, Amerika timur-laut hanya sedikit jumlahnya. Mereka memerlukan tanah. Suku Indian tidak khawatir atas kedatangan mereka. Cukup lahan tanah bagi setiap orang untuk bercocok-tanam. Mudahlan untuk hidup bersama. Suku Indian membantu pendatang itu dengan mengajar mereka bagaimana menanaman tanaman pertanian dan hidup di tanah itu. Tetapi orang Indian tidak mengerti mengapa pendatang Eropa ingin tetap memiliki tanah. Gagasan itu asing bagi orang Indian. Ide itu sama saja seperti keinginan untuk memiliki udara dan awan. Waktu berjalan, semakin banyak pendatang baru untuk bermukim dan tinggal menetap, dan mengambil lebih banyak tanah. Mereka menebang pohon untuk membangun pagar guna melindungi diri dari serangan orang dan hewan. Mereka menuntut agar orang Indian tinggal di luar tanah mereka.

Agama juga menjadi masalah yang timbul antara para pemukim baru dan penduduk pribumi Indian. Pemukim di New England sangat khusuk menganut agama mereka, agama Kristen. Mereka berpendapat bahwa agama Kristen merupakan kepercayaan yang sejati dan semua orang harus mempercayainya. Mereka segera tahu bahwa suku Indian tidak tertarik untuk mempelajari agama itu ataupun untuk mengubah kepercayaan mereka. Banyak pemukim baru lalu menyadari bahwa penduduk pribumi Amerika tidak dapat dipercaya karena mereka bukan orang Kristen. Kelompok-kelompok pemukim baru mulai merasa takut kepada orang Indian. Mereka berpendapat bahwa orang Indian sebagai orang jahat karena mereka tidak beragama. Pemukim baru mengatakan kepada orang Indian bahwa mereka harus mengubah keyakinan dan menjadi orang Kristen. Orang Indian terheran-heran, tidak mengerti, mengapa mereka harus mengubah sesuatu. Pemukim asal Eropa tidak bisa memahami bahwa suku Indian pribumi sangat taat beragama dengan sangat mempercayai kekuatan yang tidak terlihat. Penduduk Indian hidup sangat dekat dengan alam. Mereka percaya bahwa semua benda di alam semesta ini bergantung sama satu sama lain. Semua penduduk pribumi Indian mengakui kekuasaan pencipta alam dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Peristiwa-peristiwa lain juga menimbulkan masalah serius antara penduduk pribumi Amerika dan pemukim baru pendatang dari Eropa. Satu masalah serius adalah mengenai penyakit. Pemukim baru membawa penyakit dari Eropa dalam tubuh mereka. Misalnya, penyakit cacar terkenal melanda Eropa. Sebagian orang ada yang mengidap penyakit itu dan membawa bakteri yang menyebabkan penyakit cacar, meskipun mereka tidak menderita penyakit itu. Penyakit cacar tidak dikenal orang Indian. Daya tahan tubuh mereka tidak mampu melawan penyakit cacar. Penyakit itu membunuh seluruh suku setempat, Dan masalah penyakit cacar, baru merupakan satu soal saja dari penyakit serupa itu. Masih banyak lagi penyakit lain.

Pertemuan-pertemuan pertama antara pemukim baru dan penduduk pribumi terjadi hampir sama prosesnya seperti setiap kedatangan pemukim baru dari Eropa di daerah pantai timur Amerika. Kedua kelompok bertemu mula-mula sebagai sahabat. Mereka mulai dengan saling berdagang untuk memperoleh makanan dan barang-barang lain. Namun pada suatu saat, terjadilah sesuatu peristiwa dan berakibat timbulnya krisis. Mungkin pemukim baru akan menuntut agar penduduk Indian meninggalkan tanah pemukim baru. Mungkin orang Indian atau pemukim baru ada yang terbunuh. Rasa takut akann mengubah rasa persahabatan. Pihak yang satu atau pihak yang lain akan menaganggapi apa yang dipercayai pihak lain sebagai serangan. Contoh yang baik mengenai hal itu adalah bentrokan dengan kekerasan yang disebut King Philip's War atau Perang Raja Philip. Matacom adalah Pemimpin suku Wampanoag yang hidup di daerah jajahan paling utara. Dia dikenal oleh orang Inggris sebagai Raja Philip. Tanpa bantuan suku Wampanoag itu, pemukim pertama Eropa di daerah itu mungkin tidak bisa hidup dalam musim dingin. Suku Mampanoag memberi mereka makanan. Mereka mengajar pemukim itu cara menanam jagung dan tanaman pangan lainnya. Kedua kelompok menjadi saling bersahabat selama beberapa tahun. Namun, waktu berjalan, rasa khawatir dan kurang pengertian meningkat. Saudara lelaki Matacom meninggal dunia karena penyakit dari Eropa. Matacom menyalahkan pemukim baru pendatang. Dia juga melihat bagaimana dampak meningkatnya jumlah pendatang mengubah tanah mereka. Dia berpendapat bahwa pendatang baru merusak lahan tanah mereka.

Krisis kecil yang terjadi sesudah krisis lain menyebabkan meninggalnya orang Indian Kristen yang hidup bersama pemukim baru. Pendatang baru membalas kematian itu dengan membunuh 3 Indian. Perang segera pecah, dalam tahun 1675 dan terus berlangsung sampai dua tahun. Perang berlangsung sangat kejam. Pria, wanita, anak-anak di kedua pihak terbunuh. Para periset berpendapat bahwa lebih dari 600 pemukim dibunuh. Mereka juga mengatakan, sebanyak 3 ribu pribumi Indian tewas dalam kerusuhan itu. Para ahli sejarah mengatakan, suku Indian yang disebut suku Narraganset menjadi korban yang nyata akibat Perang Raja Philip. Suku Narraganset tidak terlibat dalam perang. Mereka tidak memihak satu kelompok atau pun kelompok lain. Namun, pemukim baru membunuh hampir seluruh suku Indian Narraganset karena mereka takut terhadap semua orang Indian.

Diskriminasi terhadap bangsa Indian di benua Amerika

Kedatangan bangsa kulit putih ke benua Amerika ternyata menimbulkan sebuah masalah terhadap bangsa asli benua Amerika, Bangsa Indian. Perebutan tanah oleh para pendatang menimbulkan peperangan kecil dengan bangsa indian di berbagai pelosok benua Amerika. Pada tahun 1830 lahir Indian Removal Act, peraturan yang memungkinkan pengusiran terhadap bangsa indian demi kepentingan para pendatang yang didominasi oleh kulit putih. Akibatnya, lebih dari 70.000 orang indian di usir dari tanahnya sehingga mengakibatkan ribuan orang meninggal.

Pada pertengahan abad ke-XIX, peperangan antara bangsa indian dengan tentara kavaleri terus terjadi. Kaum pendatang terus berusaha mempersempit lahan yang dimiliki oleh indian. Hal ini dikarenakan banyaknya penemuan tambang-tambang emas di wilayah barat, terutama California. Keberpihakan pemerintah kepada kaum kulit putih tergambar dari dikeluarkannya Dawes Act pada tahun 1887. Peraturan tersebut mempersempit lahan yang dimiliki oleh bangsa indian dengan cara menjatah tanah per kepala keluarga.

Perjuangan untuk memperbaiki kehidupan bangsa indian memang sangat panjang. Bangsa indian akhirnya mendaptkan status kewarga negaraan Amerika pada tahun 1934 dengan disahkannya Reorganization Act. Peraturan ini juga menghentikan semua bentuk pengusiran terhadap bangsa indian. Walau demikian, bangsa indian tetap diberi tempat yang diberi nama reservation area yang berfungsi seperti ghetto (penampungan) bagi kaum Indian.

Sesuai putusan Kongres AS, suku Indian yang tinggal di pemukiman ini mendapat hak untuk mengatur wilayah mereka sendiri (sovereign nation), termasuk urusan sekolah, pemerintahan lokal, polisi, bisnis kasino, dan hukum adat. Tempat-tempat wisata juga menjadi urusan pemerintahan mereka, seperti Black Mesa Golf Course dan Big Rock Casino. Di Amerika, pemukiman terbesar suku Indian dengan otonomi penuh adalah Navajo Nation yang terletak di wilayah yang disebut Four Corners Area, meliputi wilayah New Mexico, Arizona, dan Utah. Walaupun suku Indian kehilangan tanah mereka akibat kolonisasi oleh bangsa Spanyol, Meksiko, dan bangsa-bangsa Eropa lainnya, tanah pemukiman mereka masih tetap terjaga seperti di masa lalu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar